BLORA.SGI. Pengelolaan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kabupaten Blora terus menjadi perhatian, terutama terkait penerapan standar gizi makanan serta sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang menjadi bagian penting dalam operasional dapur.
Hal tersebut disampaikan Dicky Wahyudi selaku Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mendenrejo, Kradenan 005, pada Minggu (04/10/2026).
Menurutnya, selain memastikan kualitas makanan yang disajikan memenuhi standar gizi bagi para penerima manfaat, pengelola dapur juga wajib memperhatikan aspek pengelolaan limbah agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar.
“Standar gizi tentu menjadi prioritas utama karena program ini bertujuan memberikan makanan sehat dan berkualitas. Namun, jangan sampai operasional dapur justru menimbulkan persoalan baru, terutama dari sisi limbah,” ujar Dicky.
Ia menegaskan, keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) harus menjadi syarat penting dalam setiap dapur MBG. Sistem tersebut berfungsi mengolah limbah cair hasil aktivitas dapur sebelum dibuang ke lingkungan.
Dicky menambahkan pengelolaan IPAL yang tidak optimal dapat menimbulkan sejumlah dampak negatif, seperti pencemaran air tanah, bau tidak sedap, hingga gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Untuk SPPG Mendenrejo, Kradenan 005 sendiri menurutnya telah melakukan kewajiban terkait IPAL dan bak tampungan air dan sdh berfungsi dengan baik dan memenuhi standar.
“Kalau limbah dapur tidak diolah dengan baik, bisa mencemari saluran air, memicu bau, bahkan berdampak pada kesehatan warga. Ini yang harus dicegah sejak awal,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa pengelolaan dan perawatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di SPPG Mendenrejo, Kradenan 005 dilakukan secara rutin. Pembersihan dilakukan setiap hari oleh para relawan untuk memastikan lingkungan dapur tetap terjaga kebersihannya.
“IPAL setiap hari dibersihkan oleh relawan dan pengelolaannya sudah kami sesuaikan dengan standar serta ketentuan pemerintah,” imbuhnya.
Selain itu, pengawasan berkala juga dinilai penting untuk memastikan seluruh fasilitas dapur, termasuk IPAL, berfungsi dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku.
Program MBG sendiri diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi contoh pengelolaan fasilitas publik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dengan penerapan standar gizi yang ketat serta pengelolaan IPAL yang optimal, dapur MBG di Kabupaten Blora diharapkan mampu memberikan manfaat maksimal tanpa menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar.(tim)
Tags
News
