Teks Foto: monumen ikan lele gapura makam Mbah Gembong
Jember.SGI. Tokoh penyebar agama Islam yang dikenal dengan nama Mbah Gembong menjadi salah satu sosok yang dihormati masyarakat pesisir selatan Kabupaten Jember. Makamnya berada di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, dan hingga kini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.
Menurut cerita turun-temurun dari juru kunci makam, Mbah Gembong memiliki nama asli Syekh Sayid Alimul Hasanningrat. Ia disebut berasal dari Jawa Barat dan masih memiliki garis keturunan Sunan Gunung Jati.
Dalam perjalanan dakwahnya, Mbah Gembong berpindah dari satu daerah ke daerah lain untuk menyebarkan agama Islam, mulai dari Banten, Magelang, Pati, Ponorogo hingga akhirnya tiba di Paseban sekitar tahun 1603.
Mbah Gembong dikenal sebagai pendakwah yang sederhana dan tekun menjalani tirakat. Selama berada di Paseban, ia dikisahkan menjalani puasa panjang dan hanya makan seekor ikan lele setiap 36 hari sekali, tepat pada malam Jumat Kliwon.
Ritual itu dijalani selama delapan tahun hingga akhir hayatnya pada tahun 1611. Sebagai penghormatan atas perjalanan spiritualnya, warga bahkan mendirikan patung ikan lele di area depan makam.
Asal-usul nama “Mbah Gembong” sendiri berasal dari jawaban beliau saat ditanya warga sekitar mengenai asalnya. Karena usia yang sudah lanjut dan komunikasi yang terbatas, ia hanya menjawab singkat “Gembong”. Sejak saat itu masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan Mbah Gembong.
Kini, makam Mbah Gembong menjadi salah satu destinasi wisata religi di wilayah selatan Jember. Selain digunakan untuk ziarah dan doa bersama, lokasi makam yang berada dekat pesisir Pantai Paseban juga menambah suasana tenang dan khidmat bagi para peziarah.(r/h).

