Foto Teks: satu alat berat untuk meratakan tanah
Jember.SGI. Pembangunan gudang di area persawahan Desa Jambe Arum, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, menuai sorotan. Lokasi yang berada di belakang area pergudangan milik PT. Abadi Langgeng Gemilang, yang diduga merupakan mitra Perum Bulog, disebut-sebut mengancam keberadaan lahan pertanian produktif.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, lahan yang dilakukan pengurukan untuk perluasan gudang tersebut diduga masuk dalam kategori Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Jika benar, alih fungsi lahan tersebut berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang LP2B yang dapat berujung pada sanksi pidana.
Saat dilakukan penelusuran di lokasi, terlihat sebuah alat berat jenis ekskavator berada di tengah lahan yang diduga digunakan untuk meratakan area pembangunan.
Plt Sekretaris Desa Jambe Arum, Ahmad Zuhri, mengungkapkan bahwa pembangunan gudang tersebut telah memicu berbagai keluhan dari para petani setempat.
“Banyak petani yang mengeluhkan adanya pembangunan gudang itu, karena saluran air sawah jika hujan pasti meluap. Hal itu terjadi karena irigasi berada di bawah bangunan tersebut,” ujarnya kepada sejumlah awak media.
Ia menjelaskan, tersumbatnya jalur irigasi menyebabkan air meluap ke area persawahan di bagian utara bangunan. Dari hasil pendataan sementara, diperkirakan sekitar 10 hektare lahan sawah terdampak akibat kondisi tersebut.
Pihak desa, lanjut Zuhri, telah memberikan teguran dan peringatan kepada pihak perusahaan terkait permasalahan tersebut. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut yang jelas.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa area tersebut sebelumnya merupakan lahan hijau produktif yang digunakan untuk pertanian padi.
“Dulunya ini area persawahan, terutama sawah padi. Kami dari desa selalu mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menjual lahan sawahnya. Kami juga awalnya tidak mengetahui adanya alih fungsi lahan ini,” tambahnya.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pihak PT. Abadi Langgeng Gemilang belum membuahkan hasil. Awak media hanya ditemui oleh petugas keamanan yang menyarankan untuk menghubungi kepala gudang bernama Eko.
“Mending konfirmasi ke Pak Eko saja, nanti saya kasih nomornya,” ujar salah satu petugas keamanan.
Namun hingga berita ini diturunkan, upaya menghubungi yang bersangkutan melalui sambungan telepon belum mendapatkan respons, meskipun pihak media telah mengirimkan pesan dan dokumentasi kehadiran wartawan di lokasi.
Kasus ini menjadi perhatian karena menyangkut keberlanjutan lahan pertanian serta dampaknya terhadap para petani di wilayah tersebut. (red).
