Jalan Dikeruk-Diuruk, Mana Lapis Aspalnya? Proyek Kencong Diprotes Warga

 

JEMBER.SGI. Proyek pelebaran jalan ruas Kencong di Kabupaten Jember yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026 menjadi perhatian serius masyarakat. Proyek dengan nomor kontrak 600.1.8.1066.396.00 tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp12.081.066.396,00 dengan masa pelaksanaan 180 hari kalender, terhitung sejak 4 Februari 2026.

Berdasarkan papan proyek yang terpasang di lokasi, tercantum penyedia jasa PT. Profil Mas dan konsultan pengawas PT. Bhakti Persada. Namun di balik informasi administratif itu, warga menilai masih terdapat kekurangan dalam penyampaian informasi teknis kepada publik.

Salah satu tokoh masyarakat Kencong, Tus Mundir, saat dikonfirmasi media Rabu (4/3/2026), menyoroti tidak dicantumkannya detail teknis pekerjaan seperti panjang ruas jalan yang dilebarkan, ketebalan aspal yang digunakan, serta lebar jalan sesuai perencanaan. Menurutnya, informasi tersebut merupakan hal mendasar yang seharusnya terbuka bagi masyarakat.

“Kalau panjang pengerjaan tidak jelas, bagaimana kita tahu apakah volume pekerjaan sesuai dengan anggaran? Kalau ketebalan aspal tidak disebutkan, bagaimana memastikan kualitasnya? Dan kalau lebar jalan tidak dicantumkan, bagaimana publik bisa mengontrol apakah sesuai dengan perencanaan?” ujar Mundir.

Ia menilai papan proyek seharusnya bukan sekadar formalitas administratif, melainkan bentuk transparansi dan pertanggungjawaban atas penggunaan anggaran publik. Terlebih, proyek dengan nilai lebih dari Rp12 miliar ini menyangkut infrastruktur vital yang berdampak langsung pada keselamatan pengguna jalan.

Mundir menegaskan, kritik yang disampaikan bukanlah tuduhan adanya penyimpangan. Namun ketika informasi teknis dasar tidak dibuka secara lengkap, ruang pertanyaan dan kecurigaan publik menjadi hal yang wajar.

“Kalau memang semua sudah sesuai spesifikasi dan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi, seharusnya dibuka selebar-lebarnya. Transparansi itu bukan pajangan, tapi bentuk pertanggungjawaban,” tegasnya.

Keluhan juga datang dari warga lain, Sri Rejeki. Ia mempertanyakan metode pekerjaan di lapangan yang menurut pengamatannya hanya berupa pengerukan dan pengurukan tanpa terlihat adanya pelapisan aspal ulang.

“Apakah benar jalan itu hanya dikeruk lalu diuruk lagi tanpa lapisan aspal? Kalau hanya seperti itu, saat hujan jadi becek, saat kering berdebu. Itu membahayakan pengguna jalan,” ungkapnya.

Sri Rejeki juga menyoroti adanya gundukan tanah di sekitar kawasan pertokoan dekat Pasar Avatar yang dinilai membahayakan. Ia mengaku telah terjadi insiden pengendara yang terjatuh akibat kondisi jalan yang tidak rata.

Selain itu, ia meminta agar selama proses pengerjaan, kendaraan bertonase besar dialihkan sementara dari jalur Kencong. Menurutnya, perbaikan jalan akan sia-sia jika truk berat tetap melintas dan mempercepat kerusakan.

“Kalau jalan sedang dibenahi, seharusnya truk besar dialihkan. Ini untuk kepentingan bersama, bukan pribadi. Di wilayah Kencong sudah sering terjadi kecelakaan, bahkan sampai ada korban meninggal dunia,” tuturnya.

Warga berharap pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait dapat memberikan penjelasan terbuka mengenai spesifikasi teknis pekerjaan serta langkah-langkah pengamanan selama masa konstruksi. Transparansi dan pengawasan dinilai menjadi kunci agar proyek bernilai miliaran rupiah tersebut benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.(ron).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال